Selasa, 09 Mei 2017

ASI DAN KECERDASAN ANAK


PENDAHULUAN
Kalau ditanya ke seluruh orang tua yang masih waras di dunia ini, “Apakah anda ingin punya anak yang cerdas?”, pasti jawaban mereka, “Ya, kami ingin anak-anak yang cerdas.” Tapi kalau ditanya, “Apakah ibu-ibu dan bapak-bapak mendukung pemberian ASI Eksklusif?”, jawabannya belum tentu mendukung. Padahal antara ASI dan kecerdasan anak, sangat jelas korelasinya.
Kecerdasan seorang anak, dipengaruhi oleh 2 faktor, yaitu faktor genetik dan faktor lingkungan. Dan menurut para ahli, faktor genetik hanya menyumbang 48% dalam membentuk IQ anak, dan sisanya adalah faktor lingkungan. Dengan begitu, kita tidak perlu berkecil hati, khawatir, atau takut anak kita akan mempunyai IQ yang rendah.
Janganlah terkungkung dengan faktor genetik yang tidak menguntungkan. Mulai sekarang, optimislah bahwa dengan rencana yang baik, anak-anak kita akan lebih baik dari kita sendiri.
Untuk mendapatkan anak cerdas gampang sekali. Cuma dengan memberi makanan sehat, perawatan baik, dan lingkungan psikologis yang mendukung sejak dalam kandung hingga usia lima tahun, besar kemungkinan harapan kita akan tercapai.
Dan salah satu cara termudah untuk mendapatkan makanan sehat, perawatan baik dan lingkungan psikologi yang mendukung, adalah dengan memberikan ASI. 

KEUNGGULAN ASI DAN MANFAAT MENYUSUI
(Sumber: Buku Panduan Manajemen Laktasi: Dit.Gizi Masyarakat-Depkes RI,2001Air Susu Ibu)
Keunggulan dan manfaat menyusui, dapat ditinjau dari beberapa aspek, yaitu aspek gizi, imunologik, psikologi, kecerdasan, neurologis, ekonomi dan penundaan kehamilan.

Aspek Gizi
Kolostrum
·         Merupakan ASI yang pertama kali keluar, setelah bayi lahir.
·         Kolostrum mengandung zat kekebalan terutama IgA untuk melindungi bayi dari berbagai penyakit infeksi terutama diare.
·         Jumlah kolostrum yang diproduksi bervariasi tergantung dari hisapan bayi pada hari-hari pertama kelahiran. Walaupun sedikit namun cukup untuk memenuhi kebutuhan gizi bayi. Oleh karena itu kolostrum harus diberikan pada bayi.
·         Kolostrum mengandung protein,vitamin A yang tinggi dan mengandung karbohidrat dan lemak rendah, sehingga sesuai dengan kebutuhan gizi bayi pada hari-hari pertama kelahiran.
·         Membantu mengeluarkan mekonium yaitu kotoran bayi yang pertama berwarna hitam kehijauan.
Komposisi ASI
·         ASI mudah dicerna, karena selain mengandung zat gizi yang sesuai, juga mengandung enzim-enzim untuk mencernakan zat-zat gizi yang terdapat dalam ASI tersebut.
·         ASI mengandung zat-zat gizi berkualitas tinggi yang berguna untuk pertumbuhan dan perkembangan kecerdasan bayi/anak.
·         Selain mengandung protein yang tinggi, ASI memiliki perbandingan antara Whei dan Casein yang sesuai untuk bayi. Rasio Whei dengan Casein merupakan salah satu keunggulan ASI dibandingkan dengan susu sapi. ASI mengandung whey lebih banyak yaitu 65 : 35. Komposisi ini menyebabkan protein ASI lebih mudah diserap. Sedangkan pada susu sapi mempunyai perbandingan Whey : Casein adalah 20 : 80, sehingga tidak mudah diserap.
Taurin, DHA dan AA pada ASI
·         Taurin adalah sejenis asam amino kedua yang terbanyak dalam ASI yang berfungsi sebagai neuro-transmitter dan berperan penting untuk proses maturasi sel otak. Percobaan pada binatang menunjukkan bahwa defisiensi taurin akan berakibat terjadinya gangguan pada retina mata.
·         Decosahexanoic Acid (DHA) dan Arachidonic Acid (AA) adalah asam lemak tak jenuh rantai panjang (polyunsaturated fatty acids) yang diperlukan untuk pembentukan sel-sel otak dan mata yang optimal. Jumlah DHA dan AA  dalam ASI sangat mencukupi untuk menjamin pertumbuhan dan kecerdasan anak. Disamping itu DHA dan AA dalam tubuh dapat dibentuk/disintesa dari substansi pembentuknya (precursor) yaitu masing-masing dari Omega 3 (asam linolenat) dan Omega 6 (asam linoleat).
·         Kekurangan DHA dan ARA berkorelasi dengan berat badan rendah, lingkar kepala yang kecil, dan ukuran plasenta yang kecil. Akibatnya perkembangan sistem saraf pusat dan kemampuan kognitif di masa selanjutnya pun turut terpengaruh. (Brithis Medical Journal, tahun 2001.)

Aspek Imunologik
·         ASI mengandung zat anti infeksi, bersih dan bebas kontaminasi.
·         Immunoglobulin A (Ig.A) dalam kolostrum atau ASI kadarnya cukup tinggi. Sekretori Ig.A tidak diserap tetapi dapat melumpuhkan bakteri patogen E. coli dan berbagai virus pada saluran pencernaan.
·         Laktoferin yaitu sejenis protein yang merupakan komponen zat kekebalan yang mengikat  zat besi di saluran pencernaan.
·         Lysosim, enzym yang melindungi bayi terhadap bakteri (E. coli dan salmonella) dan virus. Jumlah lysosim dalam ASI 300 kali lebih banyak daripada susu sapi.
·         Sel darah putih pada ASI pada 2 minggu pertama lebih dari 4000 sel per mil. Terdiri dari 3 macam yaitu: Brochus-Asociated Lympocyte Tissue (BALT) antibodi pernafasan, Gut Asociated Lympocyte Tissue (GALT) antibodi  saluran pernafasan, dan Mammary Asociated Lympocyte Tissue (MALT) antibodi jaringan payudara ibu.
·         Faktor bifidus, sejenis karbohidrat yang mengandung nitrogen, menunjang pertumbuhan bakteri lactobacillus bifidus. Bakteri ini menjaga keasaman flora usus bayi dan berguna untuk menghambat pertumbuhan bakteri yang merugikan.

Aspek Psikologik
·         Rasa percaya diri ibu untuk menyusui : bahwa ibu mampu menyusui dengan produksi ASI yang mencukupi untuk bayi. Menyusui dipengaruhi oleh emosi ibu dan kasih sayang terhadap bayi akan meningkatkan produksi hormon terutama oksitosin yang pada akhirnya akan meningkatkan produksi ASI.
·         Interaksi Ibu dan Bayi: Pertumbuhan dan perkembangan psikologik bayi tergantung pada kesatuan ibu-bayi tersebut.
·         Pengaruh kontak langsung ibu-bayi : ikatan kasih sayang ibu-bayi terjadi karena berbagai rangsangan seperti sentuhan kulit (skin to skin contact). Bayi akan merasa aman dan puas karena bayi merasakan kehangatan tubuh ibu dan mendengar denyut jantung ibu yang sudah dikenal sejak bayi masih dalam rahim.

Aspek Kecerdasan
Interaksi ibu-bayi dan kandungan nilai gizi ASI sangat dibutuhkan untuk perkembangan system syaraf otak yang dapat meningkatkan kecerdasan bayi.
Penelitian menunjukkan bahwa IQ pada bayi yang diberi ASI memiliki IQ point 4.3 point lebih tinggi pada usia 18 bulan, 4-6 point lebih tinggi pada usia 3 tahun, dan 8.3 point lebih tinggi pada usia 8.5 tahun, dibandingkan dengan bayi yang tidak diberi ASI.

Aspek Neurologis
Dengan menghisap payudara, koordinasi syaraf menelan, menghisap dan bernafas yang terjadi pada bayi baru lahir dapat lebih sempurna.

Aspek Ekonomis
Dengan menyusui secara eksklusif, ibu tidak perlu mengeluarkan biaya untuk makanan bayi sampai bayi berumur 4 bulan. Dengan demikian akan menghemat pengeluaran rumah tangga untuk membeli susu formula dan peralatannya.

Aspek Penundaan Kehamilan
Dengan menyusui secara eksklusif dapat menunda haid dan kehamilan, sehingga dapat digunakan sebagai alat kontrasepsi alamiah yang secara umum dikenal sebagai Metode Amenorea Laktasi (MAL).

ASI EKSKLUSIF
Anak sapi minum susu sapi, kalo anak manusia, ya minum ASI!
Di saat sebagian masyarakat meremehkan manfaat ASI dan mengagung-agungkan susu formula, ungkapan sindirin ini cocok sekali. Apalagi dengan serangan iklan susu formula yang menggila, mungkin sekedar menggugah hati, untuk kembali kepada ASI.
Setelah mengungkapkan keunggulan ASI dan menyusui, perlu kiranya dibahas tentang bagaimana memberikan ASI yang optimal bagi anak.
ASI merupakan nutrisi terbaik dalam kualitas dan kuantitas pada saat masa lompatan pertumbuhan otak yang terjadi dari 0 sampai 6 bulan. Pemberian secara eksklusif (ASI saja) selama 6 bulan pertama didasarkan pada bukti ilmiah tentang manfaat ASI bagi daya tahan hidup bayi, pertumbuhan, dan perkembangannya. ASI memberi semua energi dan gizi (nutrisi) yang dibutuhkan bayi selama 6 bulan pertama hidupnya. Pemberian ASI eksklusif mengurangi tingkat kematian bayi yang disebabkan berbagai penyakit yang umum menimpa anak-anak seperti diare dan radang paru, serta mempercepat pemulihan bila sakit dan membantu menjarangkan kelahiran.
Penelitian tentang ASI sudah dimulai sejak lama. Mulai dari Douglas di tahun 1950, yang menemukan kenyataan bahwa anak yang memperoleh ASI, mempunyai kemampuan berjalan lebih cepat dibandingkan dengan yang tidak minum ASI. Dan penelitian oleh Lucas  di tahun 1996 dan Riva di tahun 1998, menemukan bahwa nilai IQ anak yang mendapatkan ASI, lebih tinggi beberapa poin dari pada yang tidak mendapat ASI. Richards dkk di Inggris juga menemukan bahwa anak-anak yang diberi ASI secara bermakna menunjukkan hasil pendidikan yang lebih tinggi.
Kemudian di tahun 1998, Horwood & Fergusson melakukan penelitian terhadap 1000 anak usia 13 tahun di Selandia Baru. Mereka ingin melihat riwayat pemberian ASI anak-anak ini terhadap beberapa parameter yang ingin diketahui. Dari penelitian itu, tampak adanya kecenderungan peningkatan IQ terhadap lamanya pemberian ASI. Selain itu juga terjadi peningkatan pada  hasil tes kecerdasan standar, peningkatan rangking di sekolah dan peningkatan angka di sekolah.
Jadi, mengapa kita tidak memberikan ASI pada anak kita?

Selain manfaat ASI itu sendiri, proses menyusuinya juga sangatlah penting. Karena menyusui, tidak hanya sekedar memberi makan tapi juga mendidik dan memberikan kebutuhan psikososial. Mengapa? Karena di saat itu terjadi stimulasi pada anak dengan cara kontak mata, diajak bicara, dipeluk, dan dielus-elus oleh sang ibu. Hal ini merupakan stimulasi untuk meningkatkan kecerdasan emosionalnya. Seperti yang kita ketahui, saat ini ukuran kecerdasan tidak hanya IQ (intelegensia), tapi juga EQ (kecerdasan emosional).
Wallahu 'alam.